Karang Kasirnaan

Blog EntryBuhbul dan burung mawarJul 11, '08 3:55 AM
for everyone
Saya tidak begitu yakin, burung bulbul atau buhbul ? Baiklah, sementara anggaplah burung buhbul. Ini cerita yang sangat klasik dan diulang-ulang dengan banyak versi. Saya Cuma ingin menceritakan ulang cerita si burung buhbul ini.

 

Walaupun judulnya buhbul dan bunga mawar, tapi pada kisah ini, mereka bukan pemeran utamanya. Sang pemeran utama adalah seorang pemuda yang jatuh cinta. Sang pemuda mendambakan seorang gadis yang kecantikannya seperti matahari yang bersinar hangat. Siang malam sang pemuda menceritakan kerinduannya pada sang gadis melalui seekor burung buhbul yang sering hinggap di jendela kamarnya. 

 

Burung buhbul setia mendengarkan sang pemuda. Dalam hati ia merasa sangat khawatir pada sang pemuda. Sehingga timbul rasa sayang di hati sang buhbul. Ia berangan andai ada sesuatu yang bisa dilakukannya untuk membahagiakan pemuda sahabatnya itu.

 

Pada suatu hari, sebuah kabar hinggap di telinga sang pemuda (saya lupa lagi bagaimana kabar itu hinggap). Bahwa sang gadis sangat menyukai bunga mawar merah. Kabar ini mengilhami sang pemuda untuk mengungkapkan perasaannya melalui sekuntum mawar merah, untuk sang gadis.

 

Seperti biasa, ia menceritakan rencananya pada sang buhbul. Dengan penuh semangat, sang pemuda pergi ke pasar dan mencari bunga mawar merah yang akan diberikannya pada sang gadis. Tapi ternyata, entah kenapa, seluruh bunga mawar di kota itu telah dibeli oleh seseorang dan ia tak mendapatkan barang sekuntum pun mawar merah yang ia inginkan.

 

Akhirnya sang pemuda pulang dengan lesu. Sebetulnya ia punya sebatang pohon mawar. Tapi mawar itu putih, seputih salju. Tumbuh liar di tepi pagar rumahnya.

 

Sore itu, buhbul kembali hinggap di jendela kamarnya. Sang pemuda, kembali bercerita. Tentang sang gadis, tentang bunga mawar merah dan tentang ketiadaan bunga itu di pasar.  Dengan tidak bersemangat, akhirnya ia menutup jendela karena hari menjelang malam.

 

Burung buhbul melihat ada titik terang. Mungkin bila dia bisa mencari bunga mawar merah untuk diberikan pada gadis itu, mungkin sahabatnya tak akan tampak sengsara lagi seperti itu. Mungkin kalau ia bisa menemukan sekuntum bunga mawar merah. Sang pemuda akan menemukan kebahagiaannya.

 

Lalu dengan mengandalkan sisa lembayung sore,ia terbang berkeliling kota. Matanya dipicingkan untuk melihat setiap sudut taman, bila ada sekuntum bunga mawar merah yang bisa didapatkannya. Hari semakin gelap dan ia tak juga menemukan bunga itu.

 

Akhirnya buhbul kembali ke rumah sang pemuda dengan perasaan sedih. Ia tak mampu menemukan bunga yang diinginkan sang gadis. Tiba-tiba pandangannya menangkap sekuntum mawar liar yang tumbuh di balik pagar. Bunga mawar itu cukup besar tapi warnanya putih seputih salju. Sang gadis menginginkan mawar merah. Harus yang besar dan merah, bukan yang putih.

 

Buhbul hinggap di pagar dan berbicara dengan bunga mawar liar itu.

”Hai...” (kira-kira, itu yang ia katakan)

”Hai juga buhbul...”

”Wahai mawar,  apakah kau tahu dimana aku dapat menemukan bunga mawar merah ?”

”Ummm... aku tak tahu... aku tak pernah pergi dari tempat ini. Kau tau sendiri kalau aku tak punya kaki ”

Buhbul merasa bodoh...tentu saja, mawar itu tak tau.

”Memangnya, kenapa kau menanyakan bunga mawar merah ?”

Buhbul akhirnya menceritakan semua kisah sang pemuda dan keinginannya untuk membahagiakan sang pemuda.

Sang mawar putih terdiam. Ia pun merasa kasihan pada sang pemuda yang sering dilihatnya termenung di balik jendela. Rupanya itu yang membuat sang pemuda selalu tampak murung.

 

”Sebetulnya aku bisa berubah menjadi merah...” tiba-tiba sang mawar berkata, setelah keduanya berdiam diri beberapa saat.

”Betulkah ? bagaimana caranya?” tanya buhbul dengan penuh semangat.

”Aku harus mendapatkan warna merah itu ... dari darah” kata mawar pelan, hampir tak terdengar. Ia ragu-ragu dengan gagasannya sendiri.

”Darah ? maksudmu ?”

”Darah itu yang akan mewarnai kelopakku menjadi merah, semerah darah. Tapi, darimana kita akan mendapatkan darah ?”

 

Hening, beberapa saat...

 

”Dimana kau membutuhkan darah itu, supaya dapat mewarnai kelopakmu?”

”Pada batangku, tentunya”

”Baiklah, kalau begitu, aku akan menusuk tubuhku dengan duri pada batangmu, supaya dapat mewarnai kelopaknya menjadi merah.”

”Buhbul, kau jangan bercanda...”

”Aku tidak bercanda... ayo lakukan ”

 

Buhbul menusuk tubuhnya dengan duri mawar dan darahpun mengalir melalui batang, masuk ke dalam ranting, menerobos klorofil dan mewarnai pangkal kelopak sedikit demi sedkit.

 

Mawar iru bersemu merah menjadi merah muda. Sang mawar berseru

”Sudahlah buhbul, aku sudah menjadi merah”

”Belum, itu masih kurang, kau masih tampak pucat”

Buhbul semakin dalam menusukkan duri itu di tubuhnya. Sayapnya terkulai lemas.

”Sudah cukup... kau bisa mati !!” sang mawar berseru panik.

”Masih kurang...masih kurang....masih kurang merah...”

Begitu sang buhbul mengulang-ulang kata-katanya. Ia ingin mawar itu menjadi besar dan cerah berwarna merah.

 

Hingga akhirnya, seluruh kelopak mawar menjadi sangat merah, bahkan sebagian daunnya yang hijaupun bersemu merah. Sang buhbul tak mampu lagi menopang tubuhnya. Ia jatuh ke balik semak belukar di balik pagar.

”Buhbuuul...” mawar terisak sedih.

 

Matahari bersinar perlahan. Rupanya hari menjelang pagi.

 

Sang pemuda membuka jendela. Dan betapa terkejut ia, ketika melihat sekuntum bunga mawar merah yang sangat besar di dekat pagar. Dengan tergesa, ia pun menghampiri bunga itu.

 

”Bagaimana mungkin.... aku tak pernah melihat bunga mawar semerah ini sebelumnya...” ucapnya, takjub.

 

Tergesa, dipetikkan bunga mawar itu, disimpannya dengan hati-hati. Lalu dengan hati ringan, ia segera bersiap-siap untuk mempersembahkan bunga itu pada gadis idamannya.

 

Setelah siap, ia pun melangkah menuju rumah sang gadis. Dengan riang diketuknya pintu.

 

Sesosok gadis membuka pintu. Betapa senang sang pemuda, rupanya sang gadis langsung yang menyambutnya. Dengan jatung yang berdebar, tanpa mampu berkata-kata dijulurkannya bunga mawar merah yang dibawanya. Matanya berbinar, menyimpan semua kata yang akan segera diucapkannya.

”Aku... ingin memberikan bunga ini untukmu..”

Sang gadis terdiam beberapa saat, lalu membuka pintu rumahnya lebar-lebar. Dari balik pintu sang pemuda dapat melihat jelas, betapa rumah itu telah dipenuhi dengan banyak sekali rangkaian bunga mawar merah. Rupanya yang menginginkan sang gadis bukan hanya dirinya. Salah satu dari laki-laki yang mencintai sang gadis telah membeli semua kuntum bunga mawar merah di kota itu untuk diberikan pada sang gadis. Itu sebabnya sang pemuda tak dapat menemukan bunga itu di pasar.

 

”Aku sudah memiliki semua mawar merah di kota ini” ucap sang gadis.

Sang pemuda terdiam.  Seorang laki-laki berpakaian rapi keluar dari dalam rumah.

”Maaf, aku harus pergi”

Sang gadis melangkah keluar bersama lelaki yang telah memberinya banyak sekali bunga mawar merah. Sang pemuda termenung...

 

Perlahan ia melangkah keluar dari pekarangan rumah sang gadis. Tangannya terkulai lemas. Mawar merah lepas dari tangannya....

Sebuah kereta kuda lewat. Roda-rodanya menggilas mawar merah yang akhirnya lumat, bersama debu di jalan itu....

 

Sore itu, sang pemuda menunggu buhbul untuk menceritakan kisahnya...

Tapi buhbul tak pernah datang lagi..

 

 

.


darmawayang wrote on Jul 11
usaha yang sia2 tapi. itu bukti dari sebuah persahabatan dan cinta kasih.
gotholoco wrote on Jul 11
Kalau tafsir saya seh, ternyata cinta itu perlu bukti nyata dan pengorbanan dan materi..

Seandainya si pemuda itu nekad memberikan bunga mawar putih dan "segera" menghampiri si gadis itu (tidak hanya berhayal romantis dan mengandalkan Biro Jodoh (burung buhbul), bisa jadi si gadis pujaan akan terpikat pada bunga mawar putih yang unik ( kalau mawar merah udah bosen). Lebih cepat bertindak lebih baik.

Jadi syariatnya, atau cinta itu perlu PRAKTEK atau BUKTI, bukan hanya sekedar imajinasi.

He..he.he.. itu seh teorinya, tapi saya sendiri jarang tuh mengatakan atau mempraktekan "Duhai sayang, atau memberikan bunga mawar merah tanda cinta pada istri saya" ha..ha.ha..

Dasar wanita makhluk yang seneng "dikibulin" he...he..he...
ilikelearning wrote on Jul 11
Dasar wanita makhluk yang seneng "dikibulin" he...he..he...
enak, aja "dikibulin":
gotholoco wrote on Jul 11
even love must be leave, if we believe walk with GOD
gotholoco wrote on Jul 11
Cinta itu bisa menyakitkan ketika gairah 'panah asmara" itu tidak mengena
Dan cinta itu bisa memabukan dan melupakan Sang Arjuna ketika asmara membara.
Lupa kepada Sang Pencipta hanya karena cinta pada wanita yang dipuja.

Namun kasih dan sayang (nyaah jeung deudeuh) itu abadi dan memberikan kebahagiaan. Tidak pandang usia dan waktu yang terus memburu.
Banyak pria terjebak pesona wujud wanita, dan lalu meninggalkan dia ketika usia wanita jadi renta.
Lupa kepada jasad dirinya berasal juga dari rahim wanita.

Wanita itu makhluk misteri, bisa rasional dan irasional sekaligus, contoh dari cerita di atas, masak seh diberi bunga mawar merah saja bisa "takluk" pada sang Arjuna yang mencari cinta?
Apa kurangnya Sang Arjuna lain yang "berjuang" dalam ruang imajinasi dengan cinta yang demikian anggun serta romantis, yang ditakdirkan hanya punta sekuntum mawar warna putih. Namun momentumnya kurang pas.
.
WHY ALL THIS HAPPEND DARLING ?

Wanita butuh bentuk nyata
Wanita butuh untuk dipuja
Wanita butuh untuk bergaya
Wanita butuh untuk biaya

Wanita aku tak mengerti mengapa kau ada.

batugunung wrote on Jul 12
Cinta sang pemuda : mensyaratkan kepemilikan sehingga ia lebih sibuk mencari cara untuk memiliki sang gadis daripada mencari cara untuk membahagiakannya
Cinta sang gadis : mensyaratkan bentuk dan wujud yang bisa dilihat dan disentuh
Cinta sang buhbul : tanpa syarat...

Dari mantiq-nya attar
gotholoco wrote on Jul 15
Penjelasan di atas singat padat tepat.
Jadi sepertinya ada tiga jenis cinta.
Cinta "Platonis" cinta tanpa syarat seperti burung buhbul.
Cinta "Romantis" cinta seperti pemuda romantis posesif
Cinta "Oportunis" ya jual beli lah, loe suka boleh ambil, nggak suka jangan benci.
( wantun galeuh teu wantun ulah geuleuh he..he..he.)
batugunung wrote on Jul 18
opor ayam, tunis kangkung dituang sareng sangu liwet... hehe...
rumahmutiara wrote on Jul 25
Kata Antonio Banderas dalam Film Original Sin
Cinta itu Memberi dan Memberi lagi.
Bukan Memberi dan Menerima.
Itulah yang ditunjukkan burung Buhbul.
Cinta si pemuda itu, memberi untuk berharap menerima. Makanya dia gagal.
Katanya sih...
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help